Assalammualaikum WBT...

Dalam hidup ini kita pasti ingin menjadi yang sempurna dalam segala aspek. Namun tidak semudah itu tanpa melalui pelbagai cabaran, ujian dan kekentalan semangat. Bahkan pasti ada kesilapan yang sering kita lakukan sebagai hambaNya biasa. Apapun jadikan kesilapan lalu sebagai pemangkin untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sesekali pandanglah ke belakang, di samping luaskan pandangan ke hadapan, yakini diri, usaha dan tawakal..In Shaa Allah menjadikan kita berjaya. Redha setiap ketentuanNya menjadikan kita sentiasa berlapang dada.

Diinspirasikan juga blog ini dengan koleksi2 petikan facebook dan blog yang lain dengan info yang bermanfaat sekadar untuk rujukan diri sendiri...
Showing posts with label Motivasi dan Jati Diri. Show all posts
Showing posts with label Motivasi dan Jati Diri. Show all posts

Sunday, April 9, 2017

Laa Tahzan innallaha ma’ana

Buat hati insan2 yang bersedih...

Laa Tahzan

Jangan bersedih, jika tidak ada seorangpun yang mempedulikanmu.

Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata orang lain. Tapi.., jangan sampai hal itu menyurutkan semangatmu, jangan sampai hal itu merubah niatmu, dan jangan sampai hal itu membuatmu menyerah. Yakinlah dengan apa yang kau lakukan, yakinlah bahwa Allah pasti akan selalu mendukungmu. Walaupun banyak telinga yang tak mendengar, hati membeku, tangan seolah enggan terulur, mata tak lagi ada sorot kasih dan mulutpun lebih mudah menghujat. Tapi, tetaplah kau berharap hanya kepadaNya.

Mungkin.., memang ini adalah cara-Nya untuk membuatmu lebih baik, Allah ingin mengajarkanmu tentang makna hidup yang sesungguhnya. Lantas , untuk apa kau harus bersedih? Percayalah, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik untukmu. Dengan caraNya, Dia mengajarkanmu untuk selalu bergantung hanya kepadaNya, mengajarkan kesabaran yang panjang atas sebuah harapan dan menyuruhmu untuk tidak lelah berdoa kepada-Nya.

 Jangan bersedih jika kau di zalimi, di lecehkan atau di hina orang lain.
 Islam mengajarkan untuk tidak mendendam dan membalas perlakuan yang tidak pada tempatnya pada diri kita, kenapa? karena hal itu hanya akan merendahkan dan meletakkan posisi kita sama dengan orang-orang tersebut. Lantas, apakah kita hanya diam?? Tidak, tapi balaslah perbuatan mereka dengan kebaikan, sehingga orang tersebut sadar akan kesalahan yang ia lakukan kepadamu.
Maafkanlah orang-orang yang menzalimimu, karena itu akan membuat hatimu jauh lebih tenang. Yakinlah Allah Maha Adil, Dia pasti selalu berada di pihak yang benar.

Jangan bersedih, ketika masalah menghampirimu

Karena sesungguhnya masalah membuat kita lebih kuat, masalah menjadikan kita lebih dewasa, masalah menjadikan diri kita lebih beriman, dan masalah akan menjadi sumber pahala bagi diri kita jika kita dapat mengelolanya dengan baik. Tapi, jika kita hanya disibukkan dengan melihat suatu masalah dari sisi kesulitannya, maka kita tidak akan pernah bisa keluar dari masalah itu, bahkan akan membuat kita semakin terpuruk dan terkurung.

Jangan bersedih ketika kekasihmu pergi meninggalkanmu

Mungkin tidak mudah melupakan seseorang yang pernah singgah di hati kita, tapi apakah hanya karena dia engkau rela menangis seharian? Marah-marah tak tentu arah karena merasa di khianati, dendam, sakit hati, dan tidak mau melupakannya. Seharusnya engkau bersyukur karena Allah masih menyayangimu. Dia ingin agar engkau lebih terjaga dengan menjauhkannya darimu. Bukankah engkaupun tahu bahwa Allah telah menyiapkan jodohmu jauh sebelum engkau dilahirkan ke dunia. Jika dia yang kau cinta pergi meninggalkanmu, berarti memang bukan dia yang terbaik menurut Allah. Percayalah, Allah telah menyiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya untukmu. Maka, hilangkanlah gundah di hatimu, tak usah bersedih, tak usah kau buang-buang waktumu untuk terus memikirkannya dan terus mengharapkannya. Percayalah dengan janji Allah “laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Perbaikilah dirimu dan lebih mendekatlah kepada-Nya, mohonlah hanya kepada Allah. Dan hilangkan duka di hatimu.

Bila mungkin ada luka, coba tersenyumlah
Bila mungkin ada tangis, coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti
Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkin hati ini merindukan Dia
Karena hanya dengan-Nya hati menjadi tenang

“Dan Jangan kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” QS Yusuf (12) : 87

Tersenyumlah ^_^

Laa Tahzan innallaha ma’ana

Kredit to Pakar Diari Hati

Tiap kali aku bersedih, video ini sedikit sebanyak dapat mengubati hati 😔
Moga memberi inspirasi kepada hati yang bersedih...


Saturday, February 11, 2017

Allah Menggantikan Sesuatu Yang Hilang Kepada Sesuatu Yang Lebih Baik

Alhamdulillah masih diberikan nafas meneruskan kehidupan. Sedar x sedar sudahpun sebulan lebih berada di bumi kangaroo. Puteri-puteriku pula sudah seminggu memulakan persekolahan. Syukur Allah permudahkan segala urusan.


Niat untuk update penulisan blog yang tertangguh seolah2 hampir sirna. Masa terlalu pantas berlalu. Sedangkan sepanjang menyepi terlalu banyak cerita ingin dikongsikan. Kali ini aku ingin berkongsi cerita2 yang baik. Yang x baik inshaaAllah buang ke tepi. Jika ada pun maafkan aku...

Sebut maaf ni, hati bagai tersentap dengan post rakan FB di muka buku baru. Fb lama dah ku tinggalkan. Kali ini aku mencari sahabat2 yang dapat membawa ke syurga, InshaaAllah..Aamiin. Berbalik tentang maaf ni...kenapa ya manusia ni kadang2 sukar memaafkan kesalahan, termasuk diriku sendiri. Sedangkan Allah itu sifatnya Pemaaf. Nabi juga Pemaaf sifatnya. Kita pula hambaNya yang naif bagaimana? Untuk itu dengan rendah hati, aku ambil kesempatan di sini untuk memaafkan sahabat2ku yang berbuat salah kepadaku. Kerana aku juga pendosa yang sering berbuat kesalahan disedari atau tidak. Dan aku sedang belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mudah2an Allah permudahkan hijrahku. Aamiin

Image result for allah itu pemaaf


Teringat ketika hari pertama menempatkan puteri-puteriku di sekolah baru, mashaaAllah siapa sangka di negara orang putih katakan, Allah pertemukan sahabat muslimah berbangsa rohingya. Fasih berbahasa melayu tapi sedikit loghat burma. Menjadi salah seorang sukarela di sekolah bahasa inggeris, alhamdulillah Allah memilih dia untuk memudahkan urusan persekolahan puteri-puteriku. Sementara menunggu urusan pendaftaran selesai antara suami dengan puan kerani sekolah tersebut, aku mengambil sedikit kesempatan bersembang dengan sahabat berbangsa rohingya tadi. Terlupa pula, nama sahabat tu Puan Juma. Memakai tudung tersusun kemas, mashaaAllah so sweet...bangsa ronghingya salah satu bangsa yang mendapat perlindungan di Australia. Menceritakan pengalamannya, 5 tahun Juma berhijrah ke Malaysia bersama suami dan keluarga lain, anak-anak lahir di Malaysia. Penghijrahan dengan niat untuk mendapatkan kehidupan lebih terjamin di Malaysia, namun hampa, tidaklah seindah yang diimpikan. Menurut Puan Juma, Malaysia bukanlah sebuah negara untuk mencari kedamaian, apatah lagi dengan konflik politik dan persekitaran yang tidak harmonis. Itu kata Juma berasal dari Myanmar, belum lagi kata kita sebagai Malaysian. Kecewa dengan kebajikan di Malaysia yang tidak terjaga, Puan Juma bersama suami dan anak-anaknya berhijrah pula ke Australia. Dengan nada penuh bersyukur, dengan kalimah MashaaAllah yang berkali-kali diucapkan tiap kali menceritakan kebajikannya yang terjaga di sini, nyata sekali Puan Juma bahagia dengan kehidupan di Australia dengan mendapat bantuan penuh kerajaan untuk sara diri, rawatan kesihatan serta pendidikan percuma untuk anak-anak. Di negara bukan Islam layanan yang diberikan lebih bersifat islamik. Seperti tidak ada birokrasi berlaku dalam sistem pentadbiran di sini. Alangkah indahnya jika negara kita Malaysia lebih bersifat islamik. Jangan kecam aku dengan keluhan ni ya. Secara jujurnya aku mendapati kehidupan di sini jauh bezanya dengan kehidupan di Malaysia. Masyarakat di sini juga jauh berbudi bahasa berbanding orang kita sendiri. Pemikiran juga tak sama. Lebih bersifat tawakal. Masyarakat sini lebih menghayati maksud Iftitah. Segan aku dibuatnya.

Hari ini terasa seperti mendapat nafas baru setelah futur dengan ujian-ujian yang baru berlalu. Dari ujian-ujian itu juga aku kehilangan sahabat-sahabat di muka buku lama. Mendorong aku membuka muka buku baru. Mudah-mudahan menemui keserasian di sana. Alhamdulillah news feed hampir menjurus kepada islamik. Apa yang menggembirakan ku hari ini, tanpa ku sangka salah seorang list rakan muka buku baruku, adalah seorang penulis buku Si Kosong, Jibrail Fitrah. Penulisan beliau adalah antara koleksi buku yang menjadi penemanku ketika berhijrah ke sini. Ya Allah, syukur sangat-sangat ditemukan dengan salah seorang idola penulisan. Apatah lagi beliau dengan rendah hati sempat membalas komenterku. Aku pula yang rasa segan. Terpanggil rasa hati untuk kembali membuat penulisan. InshaaAllah dengan rakan-rakan baru, yang kebanyakkannya dari bidang penulisan buku islamik, mudah-mudahan nawaitu itu menjadi lebih mudah. Cantiknya aturan Allah, mashaaAllah...sebak hati.



Allah memberikan sesuatu yang lebih baik menurut apa yang difikirkan. Berbaik sangkalah selalu. Mudah-mudahan yang datang semuanya yang baik-baik. Dan redha apa yang telah hilang, mudah-mudahan Allah menggantikan sesuatu yang lebih indah. Teguran untuk diriku sendiri juga. Alhamdulillah...

Thursday, March 6, 2014

Doa Orang Yang Dizalimi

Photo: DOA ORANG YANG DIZALIMI 

Seorang nelayan miskin yang hidupnya menanggung keluarga dengan hasil tangkapan ikan. 

Malangnya tangkapan ikannya selalu tiada. 

Hanya menggunakan jala, dia menebarkannya di tepian pantai dengan harapan akan ada ikan yang tersangkut.

Beberapa kali dicuba, nampaknya tiada razeki buatnya. 

Begitulah beberapa hari dan dia tidak berputus asa. 

Dia mempunyai kesabaran dan tekad berusaha yang tinggi.

Pada suatu hari, dia ke pantai lagi, menebar jala dengan harapan ada ikan yang tersangkut. 

Beberapa kali dicuba, namun tiada. 

Namun, dia mencuba juga dengan longlai dan penuh harapan. 

Lalu, Allah mentakdirkan seekor ikan besar terperangkap dalam jalanya. 

Alangkah gembiranya melihat ikan besar itu. 

Sambil menarik ikan tersebut, dia pun membayangkan apa yang akan dilakukan dengan ikan itu.

Akan aku beri makan kepada keluargaku sehingga kenyang. 

Kepada jiranku juga harus diberikan. 

Selebihnya barulah aku jualkan. 

Demikian nelayan itu merencanakan apa yang akan dibuatnya terhadap ikan itu. 

Razeki yang begitu sukar diperolehi.

Malangnya, ketika itu lalu seorang raja dengan askarnya. 

Raja itu sangat tertarik melihat ikan besar yang baru diperolehi nelayan itu. 

Lantas, disuruhnya pengawalnya mendapatkan ikan tersebut dari nelayan. 

Sudah tentu nelayan itu sangat keberatan. 

Setelah merasakan bahawa dia tidak dapat mempertahankan ikannya itu dari diambil oleh raja, dia pun meminta harga sebagai bayaran. 

Dengan angkuh pengawal itu merampas ikan itu dan mengatakan raja tidak membayar harga daripada apa yang dikehendakinya.

Maka, ikan itupun dibawa pergi. 

Bergenang air mata sang nelayan miskin yang daif dan tak mampu berbuat apa-apa. 

Haknya dirampas. 

Kepada siapa hendak dia mengadu? 

Hanya kepada Allah Tuhan yang satu. 

Dia pun menadahkan tangan dan berdoa.

Sementara raja itu, dengan senang hati kerana dapat ikan, disuruhnya tukang masak istana segera masakan ikan itu. 

Ikan besar itu dia seorang yang makan.

Malangnya, beberapa hari setelah makan ikan itu, raja telah dijangkiti satu penyakit aneh. 

Penyakit itu pada mulanya hanya berupa bengkak pada ibu jarinya. 

Bengkak itu disertai dengan sakit yang sangat mengganggu keselesaannya. 

Lama-lama mula bernanah. 

Tabib istana dipanggil dan setelah dicermati, dia menasihatkan supaya ibu jari kaki raja itu dipotong. 

Raja enggan menerima nasihat tabib istana dan disuruh carikan ubat untuk sakitnya. 

Namun ubat tidak ditemui juga walau bermacam ikhtiar diusahakan. 

Beberapa hari kemudian, tabib istana yang merawatnya memberitahu bahawa penyakit itu telah merebak hingga ke buku lali. 

Kakinya hendaklah dipotong supaya penyakit tidak merebak ke atas. 

Raja masih enggan menenerima nasihat tersebut kerana dia sayangkan kakinya. 

Dia memerintahkan agar dicari tabib lain yang lebih handal. 

Seorang tabib dari luar di bawa. 

Setelah melihat penyakit di kaki raja, dia pun memberitahu bahawa penyakit di kaki raja itu telah merebak hingga ke betis. 

Kalau tidak dipotong betis, ia akan merebak ke atas lagi. 

Ketika itu, akurlah sang raja. 

Lantas betisnya itu pun dipotonglah.

Raja sangat sedih atas kehilangan betisnya. 

Namun, kesedihannya tidak tamat di situ. 

Dalam keadaan sugul kerana kehilangan kakinya, tiba-tiba negerinya dilanda gempa. 

Harta benda dan jiwa banyak yang musnah. 

Keadaan ini membuatkan raja sangat hairan.

Lalu, raja memanggil seorang ulama dan bertanyakan maksud di sebalik semua musibah yang menimpanya itu.

" Tuanku telah menzalimi seseorang", ulama itu membuat rumusan.

" Seingat beta, tidak pernah beta zalimi sesiapa", ujar raja.

" Cuba Tuanku ingat betul-betul, pernahkah tuanku zalimi seseorang?", ulama itu tetap dengan rumusannya.

Maka, ketika mengimbau kembali apa yang telah dilakukannya, raja pun teringat perihal ikan yang dirampasnya dari nelayan. 

Ketika dia merampas ikan itu, dia tidak merasakan itu satu kezaliman. 

Apalah harganya seekor ikan.

" Perkara kecil di mata tuanku adalah besar di mata nelayan itu", ulama itu mengingatkan.

Raja itu memerintahkan agar nelayan itu dicari dan dibawa mengadapnya.

" Apa yang telah kamu lakukan setelah ikanmu beta rampas?", raja bertanya kepada nelayan itu.

" Saya tidak lakukan apa-apa", jawab nelayan ketakutan.

" Ceritakan terus terang, kamu tidak akan beta apa-apakan", raja memujuk dan menenangkan nelayan yang ketakutan itu.

Akhirnya nelayan itu pun berkata...

"Setelah ikan itu tuanku rampas, saya hanya mampu berdoa..." 

"Apa doamu?", soal raja 

Nelayan pun berkata: "Aku hadapkan wajahku kepada Allah dan berkata...

“Ya Allah, sesungguhnya dia telah memperlihatkan kekuasaannya atasku...Maka tunjukkanlah Kekuasaan Mu ke atasnya”.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahawa Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya : 

“Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, kerana doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah”.

(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Janganlah kamu berbuat zalim saat kamu berkuasa

***Maka kezaliman itu membawa akibat penyesalan

Kamu boleh lenakan mata tetapi yang dizalimi sentiasa berjaga

***Dia berdoa ke atasmu dan mata Allah tidak pernah lena.

Seorang nelayan miskin yang hidupnya menanggung keluarga dengan hasil tangkapan ikan. 

Malangnya tangkapan ikannya selalu tiada. 

Hanya menggunakan jala, dia menebarkannya di tepian pantai dengan harapan akan ada ikan yang tersangkut.

Beberapa kali dicuba, nampaknya tiada razeki buatnya. 

Begitulah beberapa hari dan dia tidak berputus asa. 

Dia mempunyai kesabaran dan tekad berusaha yang tinggi.

Pada suatu hari, dia ke pantai lagi, menebar jala dengan harapan ada ikan yang tersangkut. 

Beberapa kali dicuba, namun tiada. 

Namun, dia mencuba juga dengan longlai dan penuh harapan. 

Lalu, Allah mentakdirkan seekor ikan besar terperangkap dalam jalanya. 

Alangkah gembiranya melihat ikan besar itu. 

Sambil menarik ikan tersebut, dia pun membayangkan apa yang akan dilakukan dengan ikan itu.

Akan aku beri makan kepada keluargaku sehingga kenyang. 

Kepada jiranku juga harus diberikan. 

Selebihnya barulah aku jualkan. 

Demikian nelayan itu merencanakan apa yang akan dibuatnya terhadap ikan itu. 

Razeki yang begitu sukar diperolehi.

Malangnya, ketika itu lalu seorang raja dengan askarnya. 

Raja itu sangat tertarik melihat ikan besar yang baru diperolehi nelayan itu. 

Lantas, disuruhnya pengawalnya mendapatkan ikan tersebut dari nelayan. 

Sudah tentu nelayan itu sangat keberatan. 

Setelah merasakan bahawa dia tidak dapat mempertahankan ikannya itu dari diambil oleh raja, dia pun meminta harga sebagai bayaran. 

Dengan angkuh pengawal itu merampas ikan itu dan mengatakan raja tidak membayar harga daripada apa yang dikehendakinya.

Maka, ikan itupun dibawa pergi. 

Bergenang air mata sang nelayan miskin yang daif dan tak mampu berbuat apa-apa.

Haknya dirampas. 

Kepada siapa hendak dia mengadu? 

Hanya kepada Allah Tuhan yang satu. 

Dia pun menadahkan tangan dan berdoa.

Sementara raja itu, dengan senang hati kerana dapat ikan, disuruhnya tukang masak istana segera masakan ikan itu. 

Ikan besar itu dia seorang yang makan.

Malangnya, beberapa hari setelah makan ikan itu, raja telah dijangkiti satu penyakit aneh. 

Penyakit itu pada mulanya hanya berupa bengkak pada ibu jarinya. 

Bengkak itu disertai dengan sakit yang sangat mengganggu keselesaannya. 

Lama-lama mula bernanah. 

Tabib istana dipanggil dan setelah dicermati, dia menasihatkan supaya ibu jari kaki raja itu dipotong. 

Raja enggan menerima nasihat tabib istana dan disuruh carikan ubat untuk sakitnya.

Namun ubat tidak ditemui juga walau bermacam ikhtiar diusahakan. 

Beberapa hari kemudian, tabib istana yang merawatnya memberitahu bahawa penyakit itu telah merebak hingga ke buku lali. 

Kakinya hendaklah dipotong supaya penyakit tidak merebak ke atas. 

Raja masih enggan menenerima nasihat tersebut kerana dia sayangkan kakinya. 

Dia memerintahkan agar dicari tabib lain yang lebih handal. 

Seorang tabib dari luar di bawa. 

Setelah melihat penyakit di kaki raja, dia pun memberitahu bahawa penyakit di kaki raja itu telah merebak hingga ke betis. 

Kalau tidak dipotong betis, ia akan merebak ke atas lagi. 

Ketika itu, akurlah sang raja. 

Lantas betisnya itu pun dipotonglah.

Raja sangat sedih atas kehilangan betisnya. 

Namun, kesedihannya tidak tamat di situ. 

Dalam keadaan sugul kerana kehilangan kakinya, tiba-tiba negerinya dilanda gempa.

Harta benda dan jiwa banyak yang musnah. 

Keadaan ini membuatkan raja sangat hairan.

Lalu, raja memanggil seorang ulama dan bertanyakan maksud di sebalik semua musibah yang menimpanya itu.

" Tuanku telah menzalimi seseorang", ulama itu membuat rumusan.

" Seingat beta, tidak pernah beta zalimi sesiapa", ujar raja.

" Cuba Tuanku ingat betul-betul, pernahkah tuanku zalimi seseorang?", ulama itu tetap dengan rumusannya.

Maka, ketika mengimbau kembali apa yang telah dilakukannya, raja pun teringat perihal ikan yang dirampasnya dari nelayan. 

Ketika dia merampas ikan itu, dia tidak merasakan itu satu kezaliman. 

Apalah harganya seekor ikan.

" Perkara kecil di mata tuanku adalah besar di mata nelayan itu", ulama itu mengingatkan.

Raja itu memerintahkan agar nelayan itu dicari dan dibawa mengadapnya.

" Apa yang telah kamu lakukan setelah ikanmu beta rampas?", raja bertanya kepada nelayan itu.

" Saya tidak lakukan apa-apa", jawab nelayan ketakutan.

" Ceritakan terus terang, kamu tidak akan beta apa-apakan", raja memujuk dan menenangkan nelayan yang ketakutan itu.

Akhirnya nelayan itu pun berkata...

"Setelah ikan itu tuanku rampas, saya hanya mampu berdoa..." 

"Apa doamu?", soal raja 

Nelayan pun berkata: "Aku hadapkan wajahku kepada Allah dan berkata...

“Ya Allah, sesungguhnya dia telah memperlihatkan kekuasaannya atasku...Maka tunjukkanlah Kekuasaan Mu ke atasnya”.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahawa Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya : 

“Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, kerana doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah”.

(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Janganlah kamu berbuat zalim saat kamu berkuasa

***Maka kezaliman itu membawa akibat penyesalan

Kamu boleh lenakan mata tetapi yang dizalimi sentiasa berjaga

Sumber : Ustaz Nasir

Wednesday, July 17, 2013

NOTA KAUNSELING

Untuk menjadi orang yang berfikiran positif, kita harus meninggalkan prasangka buruk bahawa kita ditakdirkan bernasib malang. Hentikan mendengar lagu-lagu yang mendendangkan nasib malang, putus cinta, hidup merana dan ditinggalkan orang yg kita sayang. Kadang kala kita diajar menjadi orang yang mempunyai banyak prasangka dan tidak berfikiran positif tanpa disedari oleh lirik-lirik lagu yang sebegitu.

Rakan-rakan juga menyuntik fikiran negatif tanpa kita sedari apabila kita berbual-bual dengan mereka. Jauhi orang-orang sebegini.

Lagu dan rakan-rakan yang negatif akan menanamkan pemikiran bahawa kita ditakdirkan menjadi orang yang malang, pada hal siapa yang tahu nasib dan takdir kita?

Sebagai ibubapa kita juga mungkin mendidik pemikiran negatif pada anak-anak kita dengan menyebut perkataan-perkataan negatif di hadapan mereka. Perkataan ini akan mengubah cara mereka berfikiran dan akan mewarnai kehidupan mereka apabila dewasa kelak.

Percayalah bahawa ALLAH menciptakan dunia ini dengan keadilan. Apabila kita membandingkan diri kita dengan orang yang lebih bernasib baik, seperti lebih kaya, lebih pandai, lebih hensem dan cantik, lebih berilmu, semua anugerah ini datang dengan tanggungjawab dan ujian.

Orang yang kaya diberikan lebih tanggungjawab untuk membantu orang miskin dan tidak boleh kedekut. Orang kaya juga mempunyai banyak duit maka diuji dengan kebarangkalian untuk berbuat lebih banyak dosa. 

Jadi selalulah menyebut perkataan syukur dengan perkataan, perbuatan dan iktikad bahawa ALLAH telah memberikan keadilan dan kita bersyukur apa yang dikurniakan kepada kita.

Ujian, rintangan dan kesusahan yang kita hadapi adalah bahagian kita di dunia ini, dan kita tidak tahu mungkin ada orang diuji dengan ujian yang lebih berat dari kita. 

Orang yang bersyukur dan berfikiran positif akan menjadi orang yang lebih sihat, lebih berharta dan lebih bahagia.

Selalulah berfikiran positif dan melihat hikmah di sebalik musibah. Itu tandanya kita adalah orang yang bersyukur.

Nota Kaunseling dari Dr Zubaidi Hj Ahmad

Monday, July 8, 2013

Tidak Pakar, Tak Mengapa

Tiba2 dapat syor utk ceburi bidang yg aku sendiri x pernah terfikir sebelum ni. Guru KAFA. Boleh ke? aku sendiri masih merangkak2 dlm mendalami ilmu agama. Sebelum ni pun cuma ada pengalaman mengajar dlm pendidikan pra sekolah. Tu pun sekejap je sblm terjun dlm bidang pentadbiran. Bincang dgn kazen, lps tu dgn husband...emm husband kata, kena cuba. apa2 perkara pun memang kena cuba, x semua perkara yg ingin dilakukan perfect pada peringkat awal. Lama2 nanti bila dah biasa, ilmu pun bertambah..in sha Allah segala2nya akan bertambah baik.

Teringat pada kata2 Irfan Khairi dlm sebuah buku motivasi yg ditulisnya dalam Nota Jutawan, Nota Motivasi berbunyi 'Tidak Pakar, Tak Mengapa'..ye tidak pakar tak mengapa. Sekiranya anda bukan seorang yg pakar, jgn mengaku pakar. Tidak salah sekiranya anda tidak mengaku pakar dlm sesuatu bidang sekiranya kepakaran anda bukan dalam bidang tersebut. Merujuk kepada seorang yg pakar dapat membantu menambah kredibiliti anda.

Maknanya aku harus belajar dan terus belajar utk menjadi lebih baik dlm sesuatu bidang yg bukan menjadi kepakaran sebelumnya. Belajar di samping menambah pengalaman dapat membantu memantapkan kebolehan dan kepakaran.

Usah takut mencuba...Yakin bahawa sesiapa pun boleh lakukan dengan syarat harus ada kesungguhan, keberanian dan iltizam. In sha Allah berjaya..

Sunday, July 24, 2011

Semangat menimba ilmu


Seketika dulu saya pernah terbaca tentang kisah hidup seorang motivator terkenal tanah air yang latar hidupnya daripada keluarga miskin dan tinggal di luar bandar. Berkat keazaman yang kuat untuk berjaya dan merubah hidup nasib keluarga, dia menjadikan kemiskinan itu sebagai suatu cetusan dorongan positif dan bukan sebagai halangan. Siapa sangka dengan kemiskinan dan status anak kampung dia berjaya menjejakkan kaki melanjutkan pelajaran ke luar negara. Malah mendapat tajaan biasiswa daripada kerajaan Malaysia kerana kecemerlangannya.

Adakalanya kita terlepas pandang tentang betapa hebatnya pelajar luar bandar walaupun dalam keadaan mereka yang serba kekurangan dari segi prasarana, kewangan, kemudahan belajar dan keselesaan rumah. Tetapi adab dan semangat yang tinggi untuk maju menjadikan mereka lebih berusaha gigih. Cuma adakalanya semangat mereka mati disebabkan kemiskinan yang menghimpit walaupun mereka terdiri daripada pelajar yang celik pandai. Selain itu, ada juga yang terpaksa ponteng sekolah bukan kerana tidak berdisiplin tetapi kerana berkorban masa membantu ibu bapa mencari rezeki.

Saya masih ingat kisah pengalaman daripada seorang guru di sekolah lama dulu tentang bagaimana dia terpaksa meredah tanah lumpur tanpa berlapikkan kasut mahupun selipar untuk pergi ke sekolah. Bahkan untuk sampai ke sekolah memerlukan tiga jam perjalanan. Tetapi beliau tidak pernah menjadikannya sebagai halangan untuk berjaya.

Suka saya berkongsi pengalaman daripada kisah hidup bapa saya sendiri. Berasal dari sebuah keluarga yang miskin dan kehilangan ayahnya sejak masih bayi, bapa saya menjalani hidup bersama ibunya yang cekal membesarkan anak seramai empat orang dengan kudratnya sendiri mencari rezeki untuk mengalas perut anak-anak.

Pun begitu, kemiskinan tidak pernah menghalang bapa saya untuk berjaya. Pada ketika bapa saya dapat menyambung pelajaran ke peringkat menengah di Sabah College (sekarang Maktab Sabah), bapa saya berusaha mencari wang sendiri dengan mengambil upah mencuci baju rakan-rakan yang berkemampuan ketika itu bagi menampung kos sara diri di asrama dan pelajaran, di samping wang yang diperolehi dapat digunakan untuk membantu emaknya di kampung. Bahkan wang yang dikumpul hasil upah tersebut dapat digunakan untuk majlis perkahwinan kakaknya ketika itu. Terharu saya mendengar pengorbanannya sebagai pencari ilmu yang cekal. Walaupun bapa saya tidak dapat menjejakkan kaki ke menara gading kerana kemiskinan yang menghimpit ketika itu tetapi bapa saya adalah orang yang sangat berjaya dengan cabaran hidupnya. Itulah yang paling berharga.

Pujian juga seharusnya diberikan kepada pendidik (guru) yang sanggup berkorban masa, keluarga dan wang untuk melihat anak didik mereka berjaya. Ada guru yang sanggup menjadi penjual ikan kering dan basah sebagai pendapatan sampingan yang mana hasil jualan tersebut digunakan untuk membeli kemudahan dan buku-buku bagi membantu anak-anak didik yang kurang berkemampuan dan mengisi minyak kereta bagi membolehkannya mengambil dan menghantar anak-anak didiknya pergi ke tuisyen supaya mereka tidak perlu lagi berjalan kaki berbatu-batu jauhnya agar tidak terlepas masa mendapatkan ilmu.

Bahkan ada juga guru yang terpaksa berpisah dengan anak-anak dan isteri kerana ditempatkan bertugas di luar bandar. Lebih mencabar lagi apabila terpaksa meninggalkan isteri yang sarat mengandung atau mempunyai anak yang masih kecil. Apabila sekolah bercuti baharulah dapat peluang berjumpa dengan keluarga. Terlalu besar cabaran sebagai seorang guru.

Apapun guru dan pelajar sama-sama memainkan peranan penting bagi mewujudkan masyarakat luar bandar yang berintelektual, kreatif dan berinovasi.

**Ehsan idea  daripada Cikgu Azran Abd. Rahman, Sk Kemabung  Tenom,**